STORI HITS – Seleksi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2025 Batch 3 yang diselenggarakan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) menuai polemik di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).
Banyak peserta yang gagal seleksi administrasi mempertanyakan transparansi panitia dalam menentukan hasil seleksi.
Puluhan peserta mengeluhkan bahwa mereka tidak diberikan alasan yang jelas mengenai ketidaklolosan mereka.
Padahal, mereka telah mengeluarkan biaya besar untuk memenuhi berbagai persyaratan administrasi.
Beberapa peserta bahkan mencurigai adanya ketidakadilan gender dalam proses seleksi.
Inggri, salah satu peserta seleksi di SBD, mengungkapkan kekecewaannya setelah melihat hasil seleksi yang didominasi laki-laki.
Ia menilai ada ketidak seimbangan dalam keputusan akhir.
“Jika memang ada preferensi tertentu dalam seleksi ini, mengapa tidak disampaikan sejak awal? Kami mengeluarkan biaya besar untuk persiapan, tapi pada akhirnya justru merasa seperti hanya penggembira,” ujar Inggri, Sabtu (1/3/2025).
Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Lius, peserta lainnya, yang menilai penyelenggaraan seleksi amburadul.
Menurutnya, pengumuman hasil seleksi administrasi dan jadwal tes dilakukan secara mendadak tanpa mempertimbangkan kondisi geografis peserta.
“Pengumuman jadwal tes di Kupang keluar malam ini, lalu besok harus tes. Bagaimana mungkin peserta dari Sumba bisa sampai tepat waktu jika harus menyeberang laut atau naik pesawat dengan pemberitahuan dadakan?” kritik Lius.